Saat itu kota Jakarta menyambut kelahirannya orang-orang tumpah di tempat keramaian, seperti monas yang saat itu menjadi tempat pekan raya akan kelahiran koa yang kita cintai. Namun di sudut lain didaerah yang cukup terkenal dengan kiriman banjirnya, yaitu kampung melayu. Saat itu di sana seorang Ibu sedang berjuang ketika bayi di dalam kandungannya sudah tidak sabar ingin melihat kemeriahan pesta hari jadi kota yang katanya memberikan pelayan yang terbaik, seperti yang dituliskan di spanduk-spanduk di pinggir jalan.Justru sebaliknya kotanya tidak peduli hingga bayi yang lucu itupun lahir di depan pintu rumahnya dengan hanya menggunakan peralatan dan pelayanan apa adanya, tepat 5 juli 1980, pukul 1 pag,i bayi itu pertama kali menangis berkelahi dengan suara kembang api, tanda bahwa adanya pesta.
Bayi itupun di beri nama Ardy Ferdianto, kata Ardy yang berarti Bumi dan Fer berarti Jakarta fer atau kepanjangannya Pekan raya, kata bapak yang saat itu tidak menyaksikan kelahiran karena sibuk berdagang di Monas yang saat itu menjadi tempat pesta perayaan kota Jakarta.
Bayi itupun tumbuh menjadi lelaki yang terbilang ndablek, julukan yang diberikan seorang Ibu,ia pun mengenyam bangku sekolah di SDN 011 pagi di Bukit Duri Tanjakan Jakarta Selatan, setelah menelan bangku sekolah di sana ia pun, singgah di SMP Perguruan Rakyat 2, dekat sekali dengan rumah orang tuanya, sekolah yang cukup unik, sebab kalau banjir tiba pasti libur. dari sana ia menuju ke STM Taruna di Pulo Gadung, sayang disana ia tidak bisa menyelesaikan pelajarannya karena ndableknya akhirnya ia di titipkan bapaknya di Bengkulu tinggal bersama kakeknya yang seorang pensiunan PM. Didikan yang keras membuatnya ia banyak belajar dan selama 7 bulan dan akirnya kembali lagi ke jakarta, lalu sekolah lagi di SMU Harapan I Pondok Kopi, tapi lagi-lagi sayang ia gagal dan memilih menggenggam ijazah SMP dari sana ia mulai mencoba bekerja dan saat itu ia bekerja sebagai OB, tapi itu membuatnya tidak kerasan, lalu memilih berdagang. Lagi-lagi gagal dari situlah is mulai turun ke jalan sebagai pengamen mulanya dengan menggunakan gitar hasil pinjam dari temannya hingga akhirnya ia menjadi pengamen pembaca Puisi, sejak tercemplung di dunia kesenian dan sering belajar dari teman-teman yang ada di sanggar-sanggar atau komunitas membuatnya lebih peka dan bisa menghargai arti pentingnya hidup. Dari bekalnya berguru kemana-mana ia bersama teman-temannya mendirikan Sanggar Alam Kita dan Teater tukang dari mulai mengajar di sekola-sekolah dan kampus dan mengadakan acara atau mengisi acara-acara di berbagai event baik yang di adakan pemda ataupun pihak swasta, hingga akhirnya perjalanan itulah yang membuat ia bertemu dengan teman-teman yang notabenenya warga asing dari sana ia mendirikan Klub Frisbee Jakarta dan dari sanalah ia akhirnya bekerja dengan Jakarta Bintangs Club dan mendirikan " Sanggar Kayu " sampai dengan sekarang . Dengan perjalannya yang panjang dan berliku-liku tidak membuatnya lupa dengan Jalanan, setiap ada waktu kosong ia akan kembali keliling kota dengan membacakan puisi kepada pendengar yang selalu setia dengan puisi-puisinya.
Bayi itupun di beri nama Ardy Ferdianto, kata Ardy yang berarti Bumi dan Fer berarti Jakarta fer atau kepanjangannya Pekan raya, kata bapak yang saat itu tidak menyaksikan kelahiran karena sibuk berdagang di Monas yang saat itu menjadi tempat pesta perayaan kota Jakarta.
Bayi itupun tumbuh menjadi lelaki yang terbilang ndablek, julukan yang diberikan seorang Ibu,ia pun mengenyam bangku sekolah di SDN 011 pagi di Bukit Duri Tanjakan Jakarta Selatan, setelah menelan bangku sekolah di sana ia pun, singgah di SMP Perguruan Rakyat 2, dekat sekali dengan rumah orang tuanya, sekolah yang cukup unik, sebab kalau banjir tiba pasti libur. dari sana ia menuju ke STM Taruna di Pulo Gadung, sayang disana ia tidak bisa menyelesaikan pelajarannya karena ndableknya akhirnya ia di titipkan bapaknya di Bengkulu tinggal bersama kakeknya yang seorang pensiunan PM. Didikan yang keras membuatnya ia banyak belajar dan selama 7 bulan dan akirnya kembali lagi ke jakarta, lalu sekolah lagi di SMU Harapan I Pondok Kopi, tapi lagi-lagi sayang ia gagal dan memilih menggenggam ijazah SMP dari sana ia mulai mencoba bekerja dan saat itu ia bekerja sebagai OB, tapi itu membuatnya tidak kerasan, lalu memilih berdagang. Lagi-lagi gagal dari situlah is mulai turun ke jalan sebagai pengamen mulanya dengan menggunakan gitar hasil pinjam dari temannya hingga akhirnya ia menjadi pengamen pembaca Puisi, sejak tercemplung di dunia kesenian dan sering belajar dari teman-teman yang ada di sanggar-sanggar atau komunitas membuatnya lebih peka dan bisa menghargai arti pentingnya hidup. Dari bekalnya berguru kemana-mana ia bersama teman-temannya mendirikan Sanggar Alam Kita dan Teater tukang dari mulai mengajar di sekola-sekolah dan kampus dan mengadakan acara atau mengisi acara-acara di berbagai event baik yang di adakan pemda ataupun pihak swasta, hingga akhirnya perjalanan itulah yang membuat ia bertemu dengan teman-teman yang notabenenya warga asing dari sana ia mendirikan Klub Frisbee Jakarta dan dari sanalah ia akhirnya bekerja dengan Jakarta Bintangs Club dan mendirikan " Sanggar Kayu " sampai dengan sekarang . Dengan perjalannya yang panjang dan berliku-liku tidak membuatnya lupa dengan Jalanan, setiap ada waktu kosong ia akan kembali keliling kota dengan membacakan puisi kepada pendengar yang selalu setia dengan puisi-puisinya.



