Selasa, 01 Desember 2009

Saat itu kota Jakarta menyambut kelahirannya orang-orang tumpah di tempat keramaian, seperti monas yang saat itu menjadi tempat pekan raya akan kelahiran koa yang kita cintai. Namun di sudut lain didaerah yang cukup terkenal dengan kiriman banjirnya, yaitu kampung melayu. Saat itu di sana seorang Ibu sedang berjuang ketika bayi di dalam kandungannya sudah tidak sabar ingin melihat kemeriahan pesta hari jadi kota yang katanya memberikan pelayan yang terbaik, seperti yang dituliskan di spanduk-spanduk di pinggir jalan.Justru sebaliknya kotanya tidak peduli hingga bayi yang lucu itupun lahir di depan pintu rumahnya dengan hanya menggunakan peralatan dan pelayanan apa adanya, tepat 5 juli 1980, pukul 1 pag,i bayi itu pertama kali menangis berkelahi dengan suara kembang api, tanda bahwa adanya pesta.
Bayi itupun di beri nama Ardy Ferdianto, kata Ardy yang berarti Bumi dan Fer berarti Jakarta fer atau kepanjangannya Pekan raya, kata bapak yang saat itu tidak menyaksikan kelahiran karena sibuk berdagang di Monas yang saat itu menjadi tempat pesta perayaan kota Jakarta.
Bayi itupun tumbuh menjadi lelaki yang terbilang ndablek, julukan yang diberikan seorang Ibu,ia pun mengenyam bangku sekolah di SDN 011 pagi di Bukit Duri Tanjakan Jakarta Selatan, setelah menelan bangku sekolah di sana ia pun, singgah di SMP Perguruan Rakyat 2, dekat sekali dengan rumah orang tuanya, sekolah yang cukup unik, sebab kalau banjir tiba pasti libur. dari sana ia menuju ke STM Taruna di Pulo Gadung, sayang disana ia tidak bisa menyelesaikan pelajarannya karena ndableknya akhirnya ia di titipkan bapaknya di Bengkulu tinggal bersama kakeknya yang seorang pensiunan PM. Didikan yang keras membuatnya ia banyak belajar dan selama 7 bulan dan akirnya kembali lagi ke jakarta, lalu sekolah lagi di SMU Harapan I Pondok Kopi, tapi lagi-lagi sayang ia gagal dan memilih menggenggam ijazah SMP dari sana ia mulai mencoba bekerja dan saat itu ia bekerja sebagai OB, tapi itu membuatnya tidak kerasan, lalu memilih berdagang. Lagi-lagi gagal dari situlah is mulai turun ke jalan sebagai pengamen mulanya dengan menggunakan gitar hasil pinjam dari temannya hingga akhirnya ia menjadi pengamen pembaca Puisi, sejak tercemplung di dunia kesenian dan sering belajar dari teman-teman yang ada di sanggar-sanggar atau komunitas membuatnya lebih peka dan bisa menghargai arti pentingnya hidup. Dari bekalnya berguru kemana-mana ia bersama teman-temannya mendirikan Sanggar Alam Kita dan Teater tukang dari mulai mengajar di sekola-sekolah dan kampus dan mengadakan acara atau mengisi acara-acara di berbagai event baik yang di adakan pemda ataupun pihak swasta, hingga akhirnya perjalanan itulah yang membuat ia bertemu dengan teman-teman yang notabenenya warga asing dari sana ia mendirikan Klub Frisbee Jakarta dan dari sanalah ia akhirnya bekerja dengan Jakarta Bintangs Club dan mendirikan " Sanggar Kayu " sampai dengan sekarang . Dengan perjalannya yang panjang dan berliku-liku tidak membuatnya lupa dengan Jalanan, setiap ada waktu kosong ia akan kembali keliling kota dengan membacakan puisi kepada pendengar yang selalu setia dengan puisi-puisinya.
"Jalanan-jalanan di sini ada pesta
Pestanya uang receh
Datang tidak di jemput pulang tidak di antar
datng dan masuklah"
Sajak Cepat

Karya : Ardy Ferdianto

Di jalan cepat
Roda empat berhenti cepat
Penumpang mendarat cepat
Polisi melipat kantong cepat
Cepat...cepat
Hari semakin cepat
Benahi cepat !




Jakarta 2007
Taatilah peraturan, kawan?!

Jangan Panggil Aku Bos

Karya : Ardy Ferdianto


Jangan panggil aku bos
Hanya karena rokok sebatang
Jangan panggil aku bos
Hanya karena sembako yang hanya lewat di tangan
Jangan panggil aku bos
Hanya karena segelas kopi atau teh di saat tenggorongkan dingin
Jangan panggil aku bos
Hanya karena kebaikkan yang menurutku itu bukan kebaikkan tapi kewajiban
Jangan panggil aku bos
Tapi pangillah aku dengan nama yang kalian kenal
Sebab itu adalah anugerah



Jakarta 2008
Terima Kasih Tuhan

Karya : Ardy Ferdianto

Seharian terkapar di manjakan istri
Tubuh lemas mengegelepar dalam sumsum
Nyanyian bidadari kecil
Tampar mimpi

Mata menatap kaget
Gas di dapur kosong
Petugas pengantar susu datang
Penagih hutang sedang asyik dengan kalkulatornya
Sementara keletihan masih menggrogroti sumsum tulang

Dari senyum manis bidadari kecil
Aku bangun
Dari belaian ratu pujaan
Aku larut dalam perang
Peluru aku telan
Granat aku telan
Racun aku telan
Aku telan...aku telan
Kenyang.....
"Terima kasih Tuhan"



Jakarta 2009
Kata orang

Karya : Ardy Ferdianto

Kata orang
Pocong seperti bantal guling kalau jalan melompat
Tuyul kepelanya botak suka sekali mencuri
Genderowo badannya tinggi besar menyeramkan

Kata orang
Vampir sama dengan drakula suka sekali minum darah
Kuntilanak rambutnya panjang
Putih-putih identik dengan perempuan

Bukan hanya kata orang
Melainkan
Kata dunia lain
Kata huka-huka
Kata penampakan
Pun kata dunia televisi sama berkata " kata orang"

Bagaimana kata mereka
Kata pocong
Kata tuyul
Kata genderowo
Kata vampir dan drakula
Pun kata kutilanak

Mungkin kalau mereka bisa berkata dan di terjemahkan dalam bahasa kita
Mereka akan bilang " Terima kasih manusia, sebetulnya adamu aku ada
Adalah ketakutan-ketakutanmu."


Jakarta 2006
Prihatin

Karya : Ardy Ferdianto

Ada yang diam
Ada yang bicara
Ada yang pura-pura
Ada pula yang senyum menikmati
Seraya mereka berkata
"Lagi-lagi datang lagi! Membosankan!"




Jakarta 2006

Antara Aku
Karya : Ardy Ferdianto

Walau awan tak bersahabat
Wajahnya muram sedari pagi
Tampar langit-langit yang di dalamnya ada wajah-wajah yang rindu akan terang
Namun angin tetap setia
Ia menyusup dalam rongga ruang tanpa melihat siapa dan apa
Wajah-wajah yang rindu akan terang terangsang
Saat angin mengelus manja
Di sentuhnya wajah-wajah itu
Hingga langitpun diam dan awanpun malu
Lalu kembali tersenyum
Sebab ada cinta di ruang itu
Antara aku, dia dan mereka yang rindu akan terang



Jakarta 2007